Dalam konvergensi terkandung divergensi

Rabu, 02 Desember 2009

"Boss, pakai BlackBerry donk biar bisa BBM-an. Mahal nih kalau pakai SMS," begitulah komentar seorang karyawan kepada rekannya ketika orang yang disebut sebagai Boss itu mempersoalkan SMS-nya yang tidak dijawab.

BBM yang dimaksud oleh orang pertama di atas adalah BlackBerry Messenger, pesan instan yang tersedia bagi sesama pengguna peranti buatan Research In Motion itu.

Setelah memakai BlackBerry, si Boss tersebut sadar akan kebenaran kata-kata rekannya. SMS memang menjadi terasa sangat mahal dibandingkan dengan beragam pesan instan yang dapat diakses secara 'nyaris gratis' lewat peranti genggam itu.

Padahal, layanan pesan dua arah sepanjang 160 karakter bernama SMS atau short message service itu pernah menjadi primadona pengguna seluler di Indonesia. Itulah layanan pesan teks antarpengguna seluler yang paling digemari masyarakat sebelum populernya pesan instan seperti BBM.

Kendati tarif SMS pernah mencapai Rp350 per pesan, layanan itu dianggap jauh lebih murah dibandingkan dengan komunikasi suara yang ketika itu biayanya mencapai Rp2.000 per menit. Kedigdayaan SMS mampu menggantikan telegram dan kartu pos, apalagi setelah tarifnya turun menjadi maksimal Rp150 per pesan.

Kini, bagi pengguna BlackBerry, SMS nyaris mati.

Pesan instan seperti BBM telah menggantikan sepenuhnya fungsi SMS antarsesama pengguna BlackBerry. Bukan hanya menyamai SMS, pesan instan di handset juga menyediakan fitur yang jauh lebih komplet dengan biaya yang jauh lebih murah.

Dalam komunikasi model ini, nomor ponsel juga menjadi tidak penting karena digantikan nomor pengenal (biasa disebut PIN) atau identitas pesan instan lainnya. Pesan instan lain yang cukup populer adalah Yahoo Messenger dan Google Talk yang dapat dikirim dari handset ke perangkat lain, misalnya ke PC.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memuji satu produk atau merendahkan produk lain, tetapi mencoba melihat apa yang terjadi pada BlackBerry sebagai miniatur dari konvergensi teknologi.

Dalam kasus di atas, masuknya pesan instan berbasis Internet ke dalam handset membawa dua konsekuensi. Di satu sisi meningkatkan kualitas komunikasi teks antarpengguna seluler melalui biaya yang rendah, di sisi lain mematikan SMS yang pernah menjadi salah satu penyokong penting pendapatan operator seluler.

Di sini jelas bahwa ada ancaman 'mematikan' yang dibawa oleh konvergensi teknologi. Bahkan, ancaman serius bisa melanda produk teknologi yang usianya masih muda seperti SMS.

Konvergensi

Tanpa bermaksud memuji, BlackBerry merupakan salah satu representasi konvergensi antara teknologi komputasi dengan komunikasi data bergerak. Selain mematikan SMS, BlackBerry secara signifikan mengurangi penggunaan PC dan notebook karena keperluan untuk memeriksa surat elektronik hampir sepenuhnya tergantikan.

Dari sisi pengguna, handset yang konvergen memungkinkan akses konten, misalnya berita, dengan beragam cara. Mereka bisa membuka alamat web, WAP, bisa juga melalui pembaca RSS (really simple syndication atau rich site summary), serta launcher dan QRcode.

Bagi penggemar situs berita, perangkat konvergen seperti BlackBerry memungkinkan cara akses yang sangat efisien melalui pembaca RSS. Aplikasi pembaca RSS semacam Viigo, misalnya, mampu menghadirkan 'koran e-mail' yang dapat diakses gratis, setiap waktu.

Selain itu, para pengembang aplikasi mulai menyediakan launcher. Orang tidak perlu lagi mengetik alamat web untuk mengakses situs, cukup menekan menu khusus yang disebut sebagai launcher itu.

Divergensi kanal

Cara mengakses yang beragam itu menimbulkan tuntutan tersendiri. Para penyedia konten yang semula cukup fokus pada satu atau dua cara akses, terpaksa harus menambah delivery channel.

Penyedia konten online jadi merasa perlu memanjakan pengakses dengan menyediakan launcher, RSS, situs WAP, serta web. Konten bisa jadi sama, tetapi cara aksesnya beragam.

Karena satu alat bisa mengakses macam-macam cara, maka satu penyedia konten harus menyediakan macam-macam sarana akses.

Jika dari sisi penyedia teknologi isunya adalah konvergensi, maka isu bagi penyedia konten justru divergensi delivery channel.

Apa yang kita saksikan sebagai fenomena BlackBerry barulah penyatuan antara teknologi informasi dengan komunikasi. Penyiaran belum masuk. Sebenarnya sejumlah kelebihan juga bisa ditemui pada ponsel jenis lain, tetapi BlackBerry dijadikan contoh karena fenomena pertumbuhan dan popularitasnya yang luar biasa.

Nah, kita bisa bayangkan apa yang mungkin terjadi dalam konvergensi yang juga menyatukan elemen penyiaran bersama komputasi dan komunikasi. Pada sisi alat akses barangkali kita akan disodori handset yang bisa menerima siaran TV digital, TV online, televisi analog, video streaming, di samping akses konten yang sudah ada saat ini. Akan muncul juga beragam format baru dalam messaging, komunikasi multimedia, serta cara akses konten.

Perusahaan penyiaran dan informasi yang semula bersifat vertikal, yaitu membuat konten sekaligus membangun jaringan distribusi hingga pengguna akhir, dituntut menyesuaikan diri.

Akan hadir banyak content aggregator yang mengumpulkan konten produksi perorangan ataupun amatir yang didistribusikan melalui jaringan Internet berteknologi baru. Ini bisa menjadi ancaman serius bagi pemain tradisional karena biaya produksi dan distribusinya bisa sangat murah.

Komunikasi berbasis Internet juga akan menjadi pukulan tersendiri bagi penyedia komunikasi suara seperti operator telepon saat ini. Google Talk dan Skype merupakan embrio yang berpotensi tumbuh subur pada era konvergensi.

Konvergensi dalam BlackBerry terbukti bisa membunuh SMS dan menjadikan nomor seluler kurang penting.

Apakah konvergensi dengan penyiaran juga akan membunuh banyak penyedia layanan dan konten tradisional? Mungkin iya, apalagi jika segera muncul killer devices pada era konvergensi yang akan cepat sekali diadopsi oleh konsumen Indonesia. Perlu hati-hati bagi mereka yang terancam mati. (widodo@bisnis.co.id)

Oleh Setyardi Widodo
Wartawan Bisnis Indonesia

0 Comments:

Posting Komentar

.
 
FaceBlog © Copyright 2009 MR-Community | Blogger XML Coded And Designed by Edo Pranata | Blogger Templates